suplier cardigan candies

Selasa, 20 Desember 2011

Potensi Teh Putih sebagai Minuman Fungisonal Bagi Penyandang Obesitas

             Obesitas merupakan salah satu penyakit degeneratif. Kondisi tersebut dapat mengakibatkan peningkatan angka kesakitan dan kematian (McPhee et al. 1995; Sherwood 2007). Obesitas merupakan suatu keadaan yang ditandai dengan penimbunan jaringan lemak tubuh berlebihan. Saat ini obesitas telah menjadi epidemi, bahkan sejak manusia masih balita. Hal ini merupakan suatu masalah, karena berat badan berlebihan berarti menyimpan berbagai kemungkinan komplikasi penyakit. Penyebab obesitas beragam, diantaranya faktor genetik dan lingkungan. Perubahan pola makan yang bergeser ke arah makanan tinggi kalori dan perubahan pola hidup akibat modernisasi sehingga kurang peduli terhadap kesehatan. Aktivitas masyarakat saat ini cenderung serba instan, aktivitas fisik dan olahraga berkurang dan hal inilah yang dituding sebagai penyebab utama terjadinya obesitas yang semakin meningkat (Joko 2007).
Saat ini obesitas masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, walaupun obatnya telah ditemukan dalam waktu lama. Gaya hidup modern ini telah membuat penyakit obesitas menjadi masalah besar bagi Indonesia. Saat ini tidak kurang dari 1,6 miliar orang dewasa di seluruh dunia mengalami berat badan berlebih (overweight), dan sekurang-kurangnya 400 juta diantaranya mengalami obesitas. Pada tahun 2015, diperkirakan 2,3 miliar orang dewasa akan mengalami overweight dan 700 juta di antaranya obesitas. Di Indonesia, menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, prevalensi nasional obesitas umum pada penduduk berusia lebih  15 tahun adalah 10,3% (laki-laki 13,9%, perempuan 23,8%). Sedangkan prevalensi berat badan berlebih anak-anak usia 6-14 tahun pada laki-laki 9,5% dan pada perempuan 6,4%. Angka ini hampir sama dengan estimasi World Healthy Organization sebesar 10% obesitas terjadi pada anak usia 5-17 tahun.
Obesitas adalah salah satu penyakit yang bisa menimbulkan komplikasi jika dibiarkan atau tidak dilakukan terapi pengobatan. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa pada pasien di atas 16 tahun dan non-smokers dengan jelas memperlihatkan bahwa baik pria dan wanita yang lebih obes pada awal penelitian (dengan pemeriksaan-IMT), memiliki risiko lebih tinggi menderita penyakit ganas seperti kanker. Peningkatan risiko kanker seperti kanker ginjal dan uterus pada wanita dan kanker hati pada pria sangatlah mengejutkan. Hasil dari sebuah penelitian lain menyatakan bahwa obesitas adalah penyebab ke-2 kanker setelah merokok. Hasil dari penelitian ini dipresentasikan oleh Teh American Institute for Cancer Research and teh World Cancer Research Fund International, dengan tema: Food, Nutrition, Physical Activity, and teh Prevention of Cancer: A Global Perspective menyebutkan bahwa angka kejadian obesitas makin meningkat dan merokok berkurang sehingga diperkirakan bahwa obesitas satu dekade berikutnya akan menjadi faktor risiko pertama terjadinya kanker di dunia (Depkes 2009).
Permasalahan obesitas secara global ini belum terselesaikan secara tuntas dan optimal. Berbagai upaya pencegahan, pengobatan dan terapi telah banyak dilakukan untuk mengurangi obesitas yang semakin mengalami peningkatan di seluruh dunia. Namun, semua upaya tersebut dirasa belum optimal dan masih kurang cocok diaplikasikan. Alternatif baru yang sedang terus diteliti dan dikembangkan adalah pengobatan menggunakan tanaman herbal atau tanaman obat. Pemanfaatan tanaman obat dianggap sebagai media pengobatan alternatif yang lebih mudah dan murah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Semakin tingginya biaya pengobatan modern  dan nilai manfaat yang tinggi serta efek samping yang relatif kecil dari tanaman obat juga menjadi faktor yang turut mendorong berkembangnya minuman fungsional atau minuman herbal di masyarakat. Beberapa penelitian juga telah membuktikan bahwa tanaman obat aman dan berkhasiat untuk mencegah dan menyembuhkan berbagai macam penyakit. Menurut Heyne (1987), diantara tanaman yang dapat digunakan masyarakat untuk mencegah dan mengatasi gangguan kesehatan, yaitu salah satunya teh. Teh adalah minuman yang berasal dari ekstrak daun teh (Camellia sinensis) yang mampu menstimulus saraf dan memberikan efek menyegarkan. Menurut Hartoyo (2003), teh selain sebagai minuman yang menyegarkan juga telah lama diyakini memiliki khasiat bagi kesehatan tubuh. Khasiat terhadap kesehatan ini disebabkan oleh adanya kandungan zat-zat kimia dalam teh yang bersifat fungsional bagi tubuh. 
Bahan-bahan kimia dalam daun teh menurut Bambang (1996) dapat digolongkan menjadi empat kelompok besar, yaitu substansi fenol, substansi non fenol, substansi aromatik, dan enzim. Substansi fenol terdiri atas katekin dan flavonoid; komponen non fenol terdiri atas karbohidrat, pectin, klorophil, resin, vitamin.; serta enzim terdiri atas enzim intervase, amylase, beta-glukosidase, protease, dan peroksidasenya. Menurut Bambang (1996) katekin atau yang dikenal dengan nama tannin merupakan senyawa yang penting pada daun teh. Katekin teh merupakan flavonoid yang termasuk dalam kelas flavanol. Jumlah atau kandungan katekin bervariasi untuk masing-masing jenis teh. Adapun katekin teh yang utama adalah epicatechin, epicatechin gallat, epigallocatechin, dan epigallocatechin. Katekin mempunyai sifat tidak berwarna, larut air, serta membawa  sifat pahit dan sepat pada seduhan teh. Semua sifat produk teh sangat erat hubungannya dengan modifikasi pada katekin ini.
Beberapa jenis teh memang umumnya dari daun Camelia sinensis. Berdasarkan sifat fermentasinya dibedakan menjadi empat macam teh yaitu teh hitam, teh olong, teh hijau, dan teh putih. Menurut para ahli semua jenis teh mengandung senyawa yang bermanfaat folifenol, tehofilin atau methixantin, tannin, vitamin B komplek C, E, dan K serta sejumlah mineral seperti zink (Zn), selenium (Se), Mangan (Mn), dan magnesium (Mg) (Naland 2008). Roderick H. Dashwood, Ph.D., seorang ahli Biochemist di University’s Linus Pauling Institute menjelaskan bahwa banyak potensi dari polifenol (katekin), dan teh putih mempunyai kandungan polifenol sama besar bahkan lebih tinggi daripada teh hijau dan teh jenis lain (Suharto 2009 ). Dilihat dari senyawa aktif yang terkandung didalamnya,  teh putih merupakan salah satu jenis teh yang berkhasiat mencegah kegemukan atau epidemi obesitas.
Dari hasil riset diketahui bahwa  ekstrak teh putih dapat mencegah jaringan lemak berkembang sehingga menghambat potensi kegemukan dan membantu membakar lemak. Hal tersebut disebabkan ektrak teh mampu menaikkan metabolisme dan membuat tubuh menjadi langsing. Penelitian lain  membuktikan, khasiat teh putih lebih baik dibandingkan dengan teh  jenis lain karena mampu mengaktifkan sel manusia yang bertanggung jawab terhadap kegemukan atau overweight. Kemungkinan efek anti obesitas dari teh putih (white tea) telah didemonstrasikan dalam beberapa eksperimen dalam sel-sel lemak manusia (adiposit). Peneliti telah menunjukkan bahwa ekstrak herbal teh putih secara efektif memacu generasi dari adiposit baru dan menstimulasi mobilisasi lemak dari sel-sel lemak matang . Ekstrak teh putih adalah sumber alami yang secara efektif menghambat adipogenesis dan merangsang lipolysis-aktivitas. Oleh karena itu, dapat dimanfaatkan untuk memodulasi tingkat yang berbeda dari siklus hidup adipocyte. Zat aktif utama yang berperan disini adalah epigallocatechin-3-gallate (EGCG) (gambar 1) dan juga methylxanthines (seperti kafein). Bahan ini diketahui mengerahkan efek biologis pada adipocytes.



Gambar 1. Struktur kimia Epigallocatechin gallate (EGCG) (Suharto 2009)

Epigallocatechin gallate (EGCG) merupakan antioksidan dalam teh putih terutama dari keluarga catechin, dan termasuk epicatechin, epicatechin gallate, dan epigallocatechin. Namun, antioksidan yang paling penting dan utama dalam teh putih disebut EGCG, yang merupakan kependekan dari epigallocatechin gallate. Itu membuat hingga hampir 50 persen dari konten antioksidan. Dalam percobaan laboratorium, EGCG adalah diukur hingga 100 kali lebih aktif daripada vitamin A dan C. Secangkir teh putih umumnya dianggap mengandung lebih banyak antioksidan daripada satu porsi brokoli, bayam, stroberi,dan lain sayuran dan buah-buahan sehat. Manfaat kesehatan dari teh putih disebabkan oleh potensi EGCG (Suharto 2009)
                                                                                                                                     





  (i)                                                   (ii) 
                                          
Gambar.2. (i) Teh putih dari Fuding di Fujian, yang dianggap sebagai teh putih   kelas  terbaik (ii) tanaman teh (Camellia sinensis) (Adiwilaga 2005)
Proses pembuatan teh putih

Teh putih merupakan jenis teh terbaik karena untuk mendapatkannya hanya diambil dari satu pucuk daun teh paling muda dan tinggi yang masih dipenuhi bulu. Pada pengolahannya teh putih tidak mengalami proses fermentasi karena hanya diuapkan dan dikeringkan sehingga memiliki kandungan antioksidan tinggi. Teh putih dilayukan dan dikeringkan dengan cepat, sehingga daunnya lebih terlihat segar. Teh ini dipanaskan dengan api hingga daunnya menggulung. Oolong dan teh hitam mendapatkan warna hitam dari adanya proses tambahan yaitu fermentasi. Daun teh putih setelah dikeringkan tidak berwarna hijau tapi berwarna putih keperakan dan bila diseduh berwarna lebih pucat dengan aroma lembut dan segar. Jadi, perbedaan dengan teh lain terletak dengan perlakuan selama proses pengolahan dimana pada teh jenis lain menggunakan pemanasan sinar matahari dan fermentasi sedangkan pada teh putih tanpa melalui kedua hal tersebut.
Dalam prosesnya, hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatannya adalah pemilhan bahan baku yang berkualitas, kemudian pelayuan cepat, pengeringan, dan langsung pengemasan. Sortasi bahan baku merupakan tahap awal yang perlu dilakukan untuk memperoleh pucuk teh yang berkualitas,  kriteria untuk teh yang bisa dijadikan teh putih adalah pucuk yang masih muda, tinggi, dan masih ditumbuhi bulu-bulu halus berwarna putih. Metode berikutnya adalah pengeringan. Teh yang sudah disortir kemudian dilakukan pelayuan dan pengeringan. Keduanya dilakukan secara cepat, agar diperoleh daun teh yang tetap segar. Pemanasan dilakukan dengan menggunakan api baik dengan alat ataupun bisa manual, pemanasan dihentikan sampai daunnya menggulung. Kemudian proses selanjutnya adalah pengemasan. Tujuan pengemasan untuk menjaga kualitas dari teh putih yang telah diproses, seperti terlihat pada gambar 1. Upaya untuk membuat produk teh putih herbal  yang lebih praktis dapat dilakukan dengan membuatnya menjadi produk celup sebagaimana yang ada di pasaran saat ini.

Aplikasi teh putih untuk fitoterapi epidemi obesitas

            Fitoterapi atau terapi menggunakan tumbuhan, merupakan metode yang paling digemari saat ini. Terapi ini sudah menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia dari dulu kala namun baru popular lagi akahir-akhir ini. Hal ini disebabkan oleh gaya hidup masyarakat modern seperti sekarang ini yang menghendaki kepraktisan dan pola hidup serba cepat ata instan. Mengingat dengan segala potensi teh putih, rasanya sangat cocok untuk diaplikasikan untuk fitoterapi penanggulangan epidemic obesitas. Caranya, teh putih dapat dikonsumsi setiap hari dengan teratur. Teh ini bisa digunakan untuk terapi penyembuhan dan bisa juga untuk penjegahan. Jumlah takaran saji yang dianjurkan sama dengan teh pada umumnya, yakni sekitar 50-100 mg/sajian. Teh putih dapat dikonsumsi 3-4 kali sehari tergantung dengan tujuannya apakah untuk fitoterapi atau untuk pencegahan atau program diet. Teh ini dapat langsung diseduh dengan air panas, tanpa merebusnya terlebih dahulu.
            Keunggulan teh putih selain untuk mencegah dan mengobati penyakit epidemic obesitas adalah efisiensi produk yang mudah dan praktis serta kepopuleran segala jenis minuman berbasis teh di masyarakat luas. Selain itu, melihat prospek bahwa teh putih sangat terkenal di seluruh dunia, tentu hal ini menjadi keuntungan tersendiri bagi Indonesia pada umumnya yang notabene adalah salah satu pemasok besar teh di dunia, dan secara khusus juga menambah manfaat  atau edit value dari teh tersebut sehingga akan berdampak sistemik di berbagai bidang terutama penerapan teknologi tepat guna.

Dampak sosial, ekonomi, dan kemasyarakatan

            Adanya peningkatan nilai tambah dari bahan yang belum termanfaatkan optimal, menyebabkan akan diperoleh banyak keuntungan jika teh putih nantinya benar-benar diproduksi di Indonesia. Sejauh ini produksi teh putih baru diterapkan beberapa negara di dunia salah satunya yang sudah berhasil adalah China. Apabila menilik potensi yang dimiliki, rasanya Indonesia juga sangat cocok untuk produksi teh herbal ini, terutama terkait kondisi geografis yang menguntungkan untuk berbagai aplikasi agroindustri. Pengaplikasian bisa dimulai dari industri kecil, kemudian bisa menengah baru jika sukses dapat diterapkan di industri besar. Ditambah lagi dengan maraknya industry minuman teh saat ini sehingga berdampak pada komparasi kualitas produk secara terus-menerus. Hal ini adalah sinyal positif bagi kemajuan agroindustri di Indonesia.
            Selain itu, mengingat trend minum teh dan gaya hidup sehat pada konsep “back to nature” membuat produk olahan modifikasi teh lebih nyaman dan menguntungkan untuk dikonsumsi karena selain menyegarkan, praktis, juga sifat fungsionalnya yang sangat berguna bagi kesehatan. Dengan kata lain, aplikasi pembuatan teh putih dapat menerapkan prinsip co-management yakni suatu prinsip yang menekankan kerja sama dalam upaya pengembangannya, baik dari institusi,  UKM serta utamanya para industri minuman teh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar